Konsep Syura Dalam Islam
Pendahuluan
Perkataan syura merupakan sebuah kata arab yang berasal dari kata kerja syawara yang aslinya berasal dari kata syara. Syara – yasyuru – syaurun dengan arti; dia telah memamerkan atau memaparkan sesuatu. Orang-orang arab mengatakan syara al-‘asal yang bermakna dia telah mengambil madu dari tempatnya.
Dalam Ensiklopedi islam merumuskan syura sebagai permusyawarahan, hal bermusyawarah arau konsultasi. Majelis syura bererti majelis permusyawaratan atau badan legislatif. Jadi definisi dari pada syura atau musyawarah itu sendiri adalah saling menjelaskan dan merundingkan, meminta dan menukar pendapat mengenai suatu perkara. Ada para sarjana lain memberikan makna mengenai syura. Salah staunya ;
1. Al-asfahani mengatakan bahwa syura adalah satu opini yang pasti seperti sebuah hasil konsultasi seorang kepada orang lain.
2. Ibnu arabi, mendefinisikan syura sebuah pertemuan tentang perkara dimana mencari nasehat dari orang lain untuk mengangkat pendapatnya.
3. Al-duri juga mendefinisikan sebagai serjana kontemporer bahwa syura adalah untuk mengevaluasi opini dari orang-orang yyang berpengalaman dalam urusan-urusan tertentu dengan tujuan untuk melangsungkan kita kepada hal yang positif yang terdekat dengan kebenaran.
Konsep Dasar dan Prinsip-Prinsip Syura
Dalam ensiklopedi islam disebutkan tiga dasar aplikasi syura dalam Al-‘qur’an, pertama dalam surat Al-Baqarah ayat 23, surat al-syura ayat 36, surat ali imran 159.
Abu Ja’far Muhammad bin Jarir at-tabari, dalam mentafsirkan ayat diatas, menyatakan bahwa sesungguhnya allah menyuruh Nabi untuk bermusyawarah dengan umatnya tentang urusan yang akan dijalankan agar mereka mengetahui hakikat urusan yang akan dijejaki. Namun kewajiban melaksanakan musyawarah bukan hanya berlaku pada masa rasulullah. Akan tetapi, musyawarah tersebut dibebankan kepada setiap orang mukmin. Sekalipun perintah ayat tersebut ditujukan kepada nabi saw. Artinya perintah ayat tersebut juga berlaku umum.
Ibnu Taymiyah punyai pemikiran dan keinginan adanya musyawarah yang bersifat lebih efektif dan umum. Namun, menurutnya seorang pemimpin tidak hanya meminta pertimbangan dari kalangan ulama, akan tetapi dari semua jenjang dan kelas dalam masyarakat serta dari siapa saja yang sanggup memberikan pemikiran-pemikiran dan pendapat yang dinamis. Menurut Ibnu Taymiyah, tidak semua permasalahan bisa dimusyawarakan, umpanya minum arak, berjudi, berzina dan lain-lainya, karena dalilnya menyatakan hukum terhadap perbuatan atau masalah tersebut sudah tercantum dalam Al-qur’an. Apabila kita juga mempermasalahannya maka dianggap sebagai tindakan kufur atau bid’ah.
Model Syura dan Wilayah Al-Syura
Konsep syura dalam islam tidak membolehkan pemilihan umum atau partisipasi langsung dalam proses politik. Maududi percaya bahwa majlis al-syura adalah ditunjuk oleh kepala negara bukan dipilih melalui pemilu. Hal ini didasari oleh perilaku Umar bin Khattab, dimana ia menunjuk enam orang majlis syura atau ahlul halli wal’aqdi sebagai tim yang memilih penggantinya menjelang beliau tiada. Ada dua syarat yang harus diperhatikan yang berkaitan dengan syura. Pertama, syura tidak boleh diamalkan untuk membicarakan yang telah jelas hukumnya dalam Al-qur’an dan hadist. Karena perintah tersebut menunjukkan wajib. Kedua, apabila suatu perkara dirujuk kepada majlis al-syura maka anggota majlis tersebut ditegah untuk menetapkan keputusan yang bertentangan dengan perintah syari’ah yang terkandung dalam Al-qur’an dan sunnah rasulullah saw. Jika terjadi pertentangan maka pendapat yang diambil melalui musyawarah maka dilarang untuk mengikutinya.[i]
Kemerdekaan adalah Esensi Syura
Syura adalah kemerdekaan individual dan supremasi jamaah merupakan pangkalannya, jadi unsur yang melahirkan pengakuan atas eksistensinya, juga pengakuan untuk menyampaikan pendapat atas dasar perinsip dasar sejajar dengan yang lain, untuk mendislusikan suatu permasalahan. Apabila bagi orang yang tidak menikmati kemerdekaan maka tidak ada nilai apa pun terhadap pendapatnya dan tidak ada artinya ia terlibat dalam syura.
Dalam bukunya Al-Islam; Aqidah wa Syari’ah, Syeikh Muhammad Syaltut, berkata,” islam telah meletakkan dasar-dasar syura. Pada masa permulaan islam, ia memiliki kedudukan penting yang mengangkat nama islam, karena mengakui hak-hak asasi manusia. Asas dalam hal ini adalah kemerdekaan sepenuhnya untuk mengemukakan pendapat.
Syura adalah kebebasan, akan tetapi kebebasan berjamaah dan bertatanan, yang komitmen pada aturan dan batas-batas, yang dibimbing oleh syariat yang abadi dan oleh keputusan syura yang mengikat. Sesunggunhya, syura adalah kompromi antar kebebasan individu dan sistem sosial, lalu keterikatan seutuhnya antara keduanya. Ia adalah tolak ukur sikap saling mengisi dan saling menangung antara individu dan sosial. Ia adalah solidaritas sosial dan kesetaraan antar sesama manusia dalam kebebasan.
[i] Hasanuddin Yusuf Adan, Elemen-Elemen Politik Islam, - Cet – I, Yokyakarta; Al-Grup bekerja sama Ar-Raniry Press, Darussalam Banda Aceh,2006
Komentar
Posting Komentar